PENURUNAN KAPASITAS IMBUHAN AIR TANAH CAT JAKARTA MENGGUNAKAN METODE NERACA AIR UNTUK DAERAH URBAN

Wulan Seizarwati, Heni Rengganis, Muhshonati Syahidah

Abstract


Before rapid urban development happened in DKI Jakarta during the 1960s, most of the area was still covered by primary forest and swamp, so that recharge potential is still very high. Landuse change causes disruption of recharge capacity to replenish groundwater storage. Groundwater recharge an essential component to estimate the amount of water that flows into the groundwater storage. This research applies a method of annual recharge calculation developed in Jabotabek Water Resources Management Study (JWRMS) for Jakarta Groundwater Basin area. In this method, calculation is distinguished for both impermeable area (such as paved road, settlement, etc.) and permeable area (such as open green space, rice field, etc.). In 1900, groundwater recharge for the entire Jakarta, ranging from 500 – 1500 mm/year, even in Bekasi and Depok it reached up to 2000 mm/year. The results of groundwater recharge calculation in 1991 - 2014 shows that generally the groundwater value in Jakarta Groundwater Basin is less than 250 mm/year, although there are small areas that still have recharge potential. Recharge percentage value ranging from 4% to 20%, and the groundwater recharge average in Jakarta Groundwater Basin is 15% of rainfall.

Abstrak

Sebelum DKI Jakarta mengalami perkembangan perkotaan yang pesat sekitar tahun 1960an, sebagian besar wilayahnya masih tertutup hutan primer dan rawa sehingga potensi imbuhan masih sangat tinggi. Alih fungsi lahan menyebabkan terganggunya kapasitas imbuhan yang dapat mengisi kembali tampungan air tanah. Imbuhan air tanah merupakan komponen penting untuk mengestimasikan jumlah air yang masuk ke dalam tampungan air tanah. Penelitian ini menerapkan perhitungan imbuhan dengan metode neraca air untuk daerah urban yang dikembangkan dalam Jabotabek Water Resources Management Study (JWRMS) untuk wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta. Dalam metode tersebut, perhitungan dibedakan untuk area kedap (seperti jalan aspal, pemukiman,dll) dan area tidak kedap (seperti ruang terbuka hijau, sawah, dll). Pada tahun 1900 imbuhan air tanah CAT Jakarta berkisar antara 500 – 1500 mm/tahun, bahkan untuk wilayah Kota Bekasi dan Depok hingga mencapai 2000 mm/tahun. Hasil perhitungan imbuhan air tanah tahun 1991 – 2014 menunjukkan bahwa umumnya nilai imbuhan di CAT Jakarta kurang dari 250 mm/tahun meskipun ada sebagian kecil area yang masih memiliki nilai imbuhan yang potensial. Nilai persentase imbuhan berkisar antara 4 – 20% dan rata – rata imbuhan air tanah di CAT Jakarta adalah 15% dari nilai curah hujan yang jatuh.


Keywords


imbuhan air tanah, tutupan lahan, CAT Jakarta, Jabotabek Water Resources Management Study (JWRMS).

References


Delinom, R.M dan M. Taniguchi. 2015. Ancaman Bawah Permukaan Jakarta Tak Terlihat, Tak Terpikirkan, dan Tak Terduga. LIPI Press.

Directorate General Water Resources. 1994. Jabotabek Water Resources Management Study. Final Report, Volume 6. Directorate General of Water Resources Development, Ministry of Public Works.

Igboekwe, M.U and A. Ruth. 2011. Groundwater Recharge through Infiltration Process: A Case Study of Umudike, Southeastern Nigeria. Journal of Water Resource and Protection, 2011, 3, 295-299 doi:10.4236/jwarp.2011.35037.

Indera Jati, M.A. 2016. Pemetaan Dan Perhitungan Recharge Air Tanah Berdasarkan Data Curah Hujan Di Kabupaten Sleman. Skripsi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

Kooy, M.E. 2008. Relations of Power, Network of Water: Governing Urban Waters, Spaces, and Populations in (Post) Colonial Jakarta. A Thesis of Doctoral Program in The University of British Columbia (Vancouver).

Lubis, R.F. dan Bakti, H. 2015. Daerah Imbuhan Air Tanah Jakarta dalam buku Ancaman Bawah Permukaan Jakarta. LIPI Press.

Mc Mahon, P.B., L. N. Plummer, J. K. Böhlke, S. D. Shapiro, and S. R. Hinkle. A comparison of recharge rates in aquifers of the United States based on groundwater-age data. Hydrogeology Journal (2011) 19: 779–800. DOI 10.1007/s10040-011-0722-5.

Scanlon, B.R., R.W. Healy, and P.G. Cook. 2002. Choosing appropriate techniques for quantifying groundwater recharge. Hydrogeology Journal, ISSN: 1431-2174, Februari, 2002, 10(1), 18-39.

Siebert, S., J. Burke, J. M. Faures, K. Frenken, J. Hoogeveen, P. D¨oll, and F. T. Portmann. 2010. Groundwater Use for Irrigation – a Global Inventory, Hydrol. Earth Syst. Sci., 14, 1863–1880.

Simmers, I. 1987. Estimation of Natural Groundwater Recharge. Institute of Earth Sciences, Free University, Amsterdam, Netherlands.

Soefner, B., M. Hobler, and G. Schmidt. 1986. Jakarta Groundwater Study. Final Report. Hannover & Bandung, Federal Insitute of Geosciences & Directorate of Environmental Geology.

Yongxin, X. and H. E. Beekman. 2003. Groundwater recharge estimation in Southern Africa. UNESCO IHP Series No. 64, UNESCO Paris. ISBN 92-9220-000-.




DOI: http://dx.doi.org/10.14203/risetgeotam2017.v27.441

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Jurnal RISET Geologi dan Pertambangan

Copyright of Journal RISET Geologi dan  Pertambangan (e-ISSN 2354-6638 p-ISSN 0125-9849). Powered by OJS

  

Indexed by:

   

    

 

Plagiarism checker: