PERAN MEDIA PENYIARAN DALAM PENYEBARLUASAN PERINGATAN DINI TSUNAMI

Angy Sonia

Abstract


Tahun 1990-an menjadi tonggak penting upaya mitigasi bencana. Betapa tidak, pada era itu PBB mendeklarasikan upaya mitigasi sebagai Dekade Internasional untuk pengurangan dampak Bencana Alam. Sangatlah berat jika upaya mitigasi dilakukan LIPI pada seluruh kawasan rawan bencana yang tersebar sangat luas di seluruh penjuru Indonesia. Namun, Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan dan kerentanan bencana, upaya pembuatan peta rawan bencana perlu segera dilakukan oleh masyarakat sendiri dengan teknologi sesederhana mungkin. Dalam sebuah konsep teori interpretasi dalam memahami kerjasama aparat, ada tiga hal penting yang perlu dicermati, yaitu (1) vorhabe, adalah interpretasi menurut yang kita miliki, (2) vorsicht, adalah interpretasi berdasarkan yang kita lihat, dan (3) vorgriff adalah intepretasi terhadap apa yang akan diperoleh kemudian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon mitigasi kebencanaan, misalnya dari LIPI dan aparat pemerintah lainnya. Serta diharapkan dapat memahami peran media penyiaran dalam kegiatan pra bencana dan pasca bencana.


Keywords


mitigasi bencana, intrepretasi, media penyiaran

Full Text:

PDF

References


Endraswara, Suwardi, 2011 “Metodologi Penelitian Floklor – konsep, teori dan aplikasi, Medpress.

Ilyas, Tommy. 2012. Mitigasi Gempa dan Tsunami di daerah Perkotaan. http://staff.ui.ac.id/internal/130675142/publikasi/MITIGASIGEMPA.pdf

Panduan Informasi bagi Lembaga Penyiaran yang telah disusun oleh LIPI bersama Unesco, BMKG, BNPB, Kemkominfo (2012).

Subandono Diposaptono, “Rehabilitasi PascaTsunami Yang Ramah Lingkungan”, KOMPAS, 20 Januari 2005.

Triyono, Permana H., Bertahan dari Gempa Bumi dan Tsunami, hal.1-2.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.