PERHITUNGAN PENURUNAN TANAH LINTASAN BANDARHARJO-PONCOL, KOTA SEMARANG BERDASARKAN PERMODELAN 2 DIMENSI

Dwi Sarah, Eko Soebowo, Arifan Jaya Syahbana, Dodid Murdohardono, Taat Setiawan, Asep Mulyono, Nugroho Aji Satrio

Abstract


Kota Semarang di bagian utara hingga timur laut diketahui telah mengalami proses penurunan tanah di beberapa lokasi sejak tahun 1980an hingga sekarang. Permasalahan amblesan tanah telah menimbulkan kerugian yang cukup besar akibat kerusakan pemukiman, infrastruktur dan masalah lingkungan seperti banjir (rob). Faktor endapan alluvial berumur kuarter yang belum terkonsolidasi sempurna, penurunan muka airtanah, pembebanan permukaan dan faktor tektonik diduga
merupakan faktor penyebab amblesan tanah di kota Semarang. Tulisan ini bertujuan untuk menghasilkan model perhitungan penurunan tanah yang dapat menjelaskan kontribusi masingmasing pengaruh faktor konsolidasi lempung, penurunan muka airtanah dan beban permukaan. Model geologi bawah permukaan dan sifat keteknikan tanah yang digunakan dalam pemodelan penurunan tanah merupakan hasil dari penelitian tahun 2011. Masukan parameter muka airtanah pada perhitungan menggunakan hasil pemodelan aliran airtanah yang terkalibrasi dengan data historis muka airtanah. Pemodelan penurunan tanah dilakukan menggunakan metode elemen hingga dan hasil perhitungan dikalibrasikan dengan data pemantauan elevasi tanah oleh Badan Geologi dan Institute for Geosciences and Natural Resources (BGR) Jerman. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa proses konsolidasi alamiah tanah lempung memakan waktu yang cukup lama, bergantung pada kondisi keteknikan tanah, aliran airtanah dan pembebanan eksternal. Hasil
perhitungan menunjukkan bahwa akhir proses konsolidasi (seluruh airpori terperas keluar) akan dicapai pada tahun 5624-11119 untuk lintasan Bandarharjo-Poncol dan 2273-2374 untuk lintasan Poncol- Wiroto. Hasil pemodelan untuk penampang Bandarharjo-Poncol dan Poncol- Wiroto menunjukkan bahwa pada tahun 2002-2007, kontribusi penurunan muka airtanah di daerah ini mendominasi penyebab penurunan tanah sebesar 67-96%, kecuali pada penampang Poncol-Wiroto
1000-1300m dimana kombinasi penurunan muka airtanah dan pembebanan permukaan menjadi penyebab utama penurunan tanah.

Keywords


penurunan tanah, lempung, pemodelan,kota Semarang

Full Text:

PDF

References


Abidin H.Z, Andreas H., Gumilar I., Sidiq T.P., Gamal M., Murdohardono D., Supriyadi, Fukuda Y. , 2010. Studying Land Subsidence in Semarang (Indonesia) Using Geodetic Methods.FIG Congress 2010 Facing the Challenges – Building the Capacity.Sydney, Australia, 11-16 April 2010.

http://www.fig.net/pub/fig2010/papers/fs04d%5Cfs04d_abidin_andreas_et_al_3748.pdf

Biot, M.A.,1955. Theory of elasticity and consolidation for a porous anisotropic solid.

J.Appl.Phys. 26(2), Soebowo E., Lubis, R.F., Mulyono A., 2011 . Identifikasi Faktor Geoteknik Penyebab Amblesan Tanah di Kota Semarang. Prosiding Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi LIPI 2011 , 199-203. ISBN: 978-979-8636-18-9.

Marfai, M.A. dan King, L. (2007) Monitoring land subsidence in Semarang, Indonesia. Environ Geol. doi:10.1007/s00254-007-0680-3.

Murdohardono, D., G.M. Sudradjat, A.D. Wirakusumah F. Kühn, F. Mulyasari , 2009. Land Subsidence Analysis through Remote Sensing and Implementation on Municipality Level; Case Study: Semarang Municipality, Central Java Province, Indonesia. Paper presented at the BGRGAI-CCOP Workshop on Management of Georisks “The Role of Geological Agencies in Government Practice of Risk Reduction from Natural Disaster”, 23-25 June 2009, Yogyakarta.

Plaxis, B.V., 1998. Plaxis Finite Element Code for Soil and Rock Analysis, user’s manual. Plaxis BV, Delft, Netherlands. Thadhen, R.E., dkk., 1975. Peta Geologi Lembar Magelang-Semarang, Jawa. Direktorat Geologi, Bandung.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.